nav { display: block; margin-top: 100px; background: #374147; } .menu { display: block; } .menu li { display: inline-block; position: relative; z-index: 100; } .menu li:first-child { margin-left: 0; } .menu li a { font-weight: 600; text-decoration: none; padding: 20px 15px; display: block; color: #fff; transition: all 0.2s ease-in-out 0s; } .menu li a:hover,.menu li:hover>a { color: #fff; background: #9ca3da; } .menu ul { visibility: hidden; opacity: 0; margin: 0; padding: 0; width: 150px; position: absolute; left: 0px; background: #fff; z-index: 99; transform: translate(0,20px); transition: all 0.2s ease-out; } .menu ul:after { bottom: 100%; left: 20%; border: solid transparent; content: " "; height: 0; width: 0; position: absolute; pointer-events: none; border-color: rgba(255, 255, 255, 0); border-bottom-color: #fff; border-width: 6px; margin-left: -6px; } .menu ul li { display: block; float: none; background: none; margin: 0; padding: 0; } .menu ul li a { font-size: 12px; font-weight: normal; display: block; color: #797979; background: #fff; } .menu ul li a:hover,.menu ul li:hover>a { background: #9ca3da; color: #fff; } .menu li:hover>ul { visibility: visible; opacity: 1; transform: translate(0,0); } .menu ul ul { left: 149px; top: 0px; visibility: hidden; opacity: 0; transform: translate(20px,20px); transition: all 0.2s ease-out; } .menu ul ul:after { left: -6px; top: 10%; border: solid transparent; content: " "; height: 0; width: 0; position: absolute; pointer-events: none; border-color: rgba(255, 255, 255, 0); border-right-color: #fff; border-width: 6px; margin-top: -6px; } .menu li>ul ul:hover { visibility: visible; opacity: 1; transform: translate(0,0); } .responsive-menu { display: none; width: 100%; padding: 20px 15px; background: #374147; color: #fff; text-transform: uppercase; font-weight: 600; } .responsive-menu:hover { background: #374147; color: #fff; text-decoration: none; } a.homer { background: #9ca3da; } @media (min-width: 768px) and (max-width: 979px) { .mainWrap { width: 768px; } .menu ul { top: 37px; } .menu li a { font-size: 12px; } a.homer { background: #374147; } } @media (max-width: 767px) { .mainWrap { width: auto; padding: 50px 20px; } .menu { display: none; } .responsive-menu { display: block; margin-top: 100px; } nav { margin: 0; background: none; } .menu li { display: block; margin: 0; } .menu li a { background: #fff; color: #797979; } .menu li a:hover,.menu li:hover>a { background: #9ca3da; color: #fff; } .menu ul { visibility: hidden; opacity: 0; top: 0; left: 0; width: 100%; transform: initial; } .menu li:hover>ul { visibility: visible; opacity: 1; position: relative; transform: initial; } .menu ul ul { left: 0; transform: initial; } .menu li>ul ul:hover { transform: initial; } } @media (max-width: 480px) { } @media (max-width: 320px) { }

Welcome to my Blog ^_^

Welcome to my blog ^_^

Kamis, 03 Maret 2016

Makalah Greenhouse

Manfaat dan tujuan Green house Green house atau yang dikenal dengan rumah kaca saat ini bukanlah barang baru bagi pelaku agribisnis, terutama agribisnis hortikultura seperti sayuran dan tanaman hias. Meskipun demikian, hal itu tidak menjamin bahwa semua petani Indonesia mengerti dan mengetahui tentang green house ini. Jangankan tahu manfaatnya, bahkan mungkin melihatnya saja belum pernah. Berdasarkan pertimbangan tersebut,dalam bahasan ini akan diulas gambaran umum mengenai apa sebenarnya dan manfaat dari green house sebagai penunjang agribisnis kita. Dunia pertanian di Indonesia telah menjadi salah satu penghasil komoditas unggulan baik untuk konsumsi dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini menyebabkan semakin banyaknya teknologi budidaya pertanian untuk terus dikembangkan. Salah satu teknologi yang banyak digunakan adalah teknologi rumah kaca (Greenhouse). Gambar 1 : Greenhouse Karena dengan Greenhouse faktor yang berpengaruh seperti suhu, sinar matahari, kelembaban, dan udara disediakan, dipertahankan dan didistribusikan secara merata pada level yang optimal. Untuk tujuan ini disyaratkan dalam pembuatan greenhouse adalah mempunyai transmisi cahaya yang tinggi, konsumsi panas yang rendah, ventilasi yang cukup dan efisien, struktur yang kuat. Greenhouse untuk daerah tropis sangat memungkinkan dan mempunyai banyak keuntungan dalam produksi dan budidaya tanaman. Produksi dapat dilakukan sepanjang tahun, dimana produksi dalam lahan yang terbuka tidak memungkinkan karena adanya hujan yang sering dan angin yang kencang. Struktur greenhouse di daerah tropis sering menggunakan sisinya untuk melindungi dan mengontrol suhu dengan menggunakan ventilasi alamiah maupun terkontrol dengan dilapisi jala (screens) yang mampu mengurangi serangan serangga dan hama. BAB II PEMBAHASAN Rumah kaca atau green house pada prinsipnya adalah sebuah bangunan yang terdiri atau terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup diseluruh pemukaan bangunan, baik atap maupun dindingnya. Didalamnya dilengkapi juga dengan peralatan pengatur temperature dan kelembaban udara serta distribusi air maupun pupuk. Bangunan ini tergolong bangunan yang sangat langka dan mahal, karena tidak semua tempat yang kita jumpai dapat ditemukan bangunan semacam ini. Green house biasanya hanya dimiliki oleh Perguruan Tinggi atau lembaga pendidikan, Balai Penelitian dan perusahaan yang bergerak dibidang bisnis perbenihan, bunga dan fresh market hortikultura. Namun di negara-negara pertanian yang sudah maju seperti USA, Australia, Jepang dan negara-negara Eropa sebagian besar tanaman hortikulturanya ditanam di rumah kaca. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan greenhouse di mancanegara sudah umum dilakukan. Bahkan mungkin sudah berpuluh tahun sebelum negara kita mengadopsi tekhnologi tersebut. Rumah kaca/green house yang digunakan di Indonesia sebagian besar digunakan untuk penelitian percobaan budidaya, percobaan pemupukan, percobaan ketahanan tanaman terhadap hama maupun penyakit, percobaan kultur jaringan, percobaan persilangan atau pemuliaan, percobaan hidroponik dan percobaan penanaman tanaman diluar musim oleh para mahasiswa , para peneliti, para pengusaha dan praktisi disemua bidang pertanian. Green House sebagai Sarana Penunjang Agribisnis Hortikultura sangat Mendukung Upaya Peningkatan Produksi dan Kontinyuitas Produk Sebenarnya ide awal untuk pembuatan bangunan green house di Indonesia dilatarbelakangi oleh kegiatan penelitian yang dilakukan lembaga penelitian maupun dunia pendidikan. Kegiatan penelitian yang dimaksud disini adalah kegiatan mencari jawaban atau mencari solusi / jalan keluar atau pemecahan terhadap suatu kasus. Sebagai contoh, bila kita ingin mencari uji ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit tertentu. Adanya green house yang mampu menciptakan iklim yang bisa membuat tanaman mampu berproduksi tanpa kenal musim ini ternyata juga mampu menghindarkan dari serangan hama dan penyakit yang tidak diujikan. Selain itu dengan adanya green house penyebaran hama dan penyakit yang diujicoba dapat dicegah . Hal ini berbeda dengan percobaan yang dilakukan di luar green house dimana dalam waktu yang sangat singkat hama dan penyakit dapat cepat menyebar luas karena terbawa angin maupun serangga. Secara umum green house dapat didefinisikan sebagai bangun kontruksi dengan atap tembus cahaya yang berfungsi memanipulasi kondisi lingkungan agar tanaman di dalamnya dapat berkembang optimal. Manipulasi lingkungan ini dilakukan dalam dua hal, yaitu menghindari kondisi lingkungan yang tidak dikehendaki dan memunculkan kondisi lingkungan yang dikehendaki. Kondisi lingkungan yang tidak dikehendaki antara lain : Ekses radiasi sinar matahari seperti sinar ultra violet dan sinar infra merah. Suhu udara dan kelembaban yang tidak sesuai. Kekurangan dan kelebihan curah hujan. Gangguan hama dan penyakit. Tiupan angin yang terlalu kuat sehingga dapat merobohkan tanaman. Tiupan angin dan serangga yang menyebabkan kontaminasi penyerbukan. Ekses polutan akibat polusi udara. Sementara kondisi lingkungan yang dikehendaki antara lain : Kondisi cuaca yang mendukung rentang waktu tanam lebih panjang. Mikroklimat seperti suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman. Suplai air dan pupuk dapat dilakukan secara berkala dan terukur. Sanitasi lingkungan sehingga tidak kondusif bagi hama dan penyakit. Kondisi nyaman bagi terlaksananya aktivitas produksi dan pengawasan mutu. Bersih dari ekses lingkungan seperti polutan dan minimnya residu pestisida Hilangnya gangguan fisik baik oleh angin maupun hewan. Manfaat apa saja yang didapat jika menggunakan green house , hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Pengaturan jadwal produksi. Dunia pertanian kita masih demikian tergantungnya pada keadaan cuaca, bila terjadi perubahan musim, apalagi bila tidak terprediksi akan menyebabkan sulitnya menentukan jenis tanaman yang akan diproduksi. Jika musim hujan terlalu panjang akan menyebabkan banyaknya penyakit termasuk pembusukan akar. Jika musim terlalu kering akan menyebabkan tanaman kekurangan air, hama juga akan menyerang yang dapat menimbulkan kerugian. Demikian pula pada saat tertentu suatu komoditas sulit ditemui mengakibatkan harganya demikian tinggi, sementara pada waktu lain kebanjiran produk menyebabkan harga anjlok, sehingga kerugian segera tiba. Untuk itu perlu sekali mengurangi ketergantungan pada lingkungan luar menggantikan dengan mikroklimat yang diatur. Dengan demikian dapat dijadwalkan produksi secara mandiri dan berkesinambungan. Sehingga konsumen tidak perlu kehilangan komoditas yang dibutuhkan, juga kita tidak perlu membanjiri pasar denganb jenis komoditas yang sama yang menyebabkan harga anjlok. 2. Meningkatkan hasil produksi Pada luasan areal yang sama tingkat produksi budidaya di dalam green house lebih tinggi dibandingkan di luar green house. Karena budidaya di dalam green house kondisi lingkungan dan pemberian hara dikendalikan sesuai kebutuhan tanaman. Gejala hilangnya hara yang biasa terjadi pada areal terbuka seperti pencucian dan fiksasi, di dalam green house diminimalisir. Budidaya tanaman seperti ini dikenal sebagai hidroponik. Kondisi areal yang beratap dan lebih tertata menyebabkan pengawasan dapat lebih intensif dilakukan. Bila terjadi gangguan terhadap tanaman baik karena hama, penyakit ataupun gangguan fisiologis, dapat dengan segera diketahui untuk diatasi . 3. Meningkatkan kualitas produksi Ekses radiasi matahari seperti sinar UV, kelebihan temperatur, air hujan, debu, polutan dan residu pestisida akan mempengaruhi penampilan visual, ukuran dan kebersihan hasil produksi. Dengan kondisi lingkungan yang terlindungi dan pemberian nutrisi akurat dan tepat waktu, maka hasil produksi tanaman akan berkwalitas. Pemasakan berlangsung lebih serentak, sehingga pada saat panen diperoleh hasil yang lebih seragam, baik ukuran maupun bentuk visual produk. 4. Meminimalisasi pestisida Green house yang baik selain dirancang untuk memberikan kondisi mikroklimat ideal bagi tanaman, juga memberikan perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit. Perlindungan yang umum dilakukan adalah dengan memasang insect screen pada dinding dan bukaan ventilasi di bagian atap. Insect screen yang baik tidak dapat dilewati oleh hama seperti kutu daun. Pada beberapa green house bagian pintu masuknya tidak berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Ada ruang kecil, semacam teras transisi yang dibuat untuk menahan hama atau patogen yang terbawa oleh manusia. Pada lantai ruang ini juga terdapat bak berisi cairan pencuci hama dan patogen. Untuk pintu dapat ditambahkan lembaran PVC sheet. 5. Aset dan performance Saat ini sangat biasa orang membangun green house dengan sistem knock down. Dengan cara ini gren house bukanlah aset mati, manakala karena suatu hal ada perubahan kebijakan, maka struktur green house tersebut dapat dipindahkan atau mungkin dijual ke pihak lain yang memerlukan dengan harga yang proporsional. Dengan adanya green house maka kesan usaha akan terlihat lebih modern dan padat teknologi. Hal ini tentunya akan meningkatkan performance petani atau perusahaan yang menggunakannya. 6. Sarana agrowisata Green house banyak juga digunakan sebagai ruang koleksi berbagai jenis tanaman bernilai tinggi. Di dalam green house pengunjung dapat melihat berbagai jenis tanaman yang menarik, bahkan langka, sehingga dapat menjadi daya tarik. Ada yang khusus mengkoleksi kaktus, anggrek atau berbagai jenis tanaman dengan suasana dibuat seperti di alam bebas. Di Indonesia green house seperti ini banyak ditemukan di berbagai kebun raya dan tempat agrowisata. JENIS GREEN HOUSE Yang dimaksud dengan jenis green house adalah pembedaan ragam green house berdasarkan material dominan yang digunakan. Pembedaan ini akan membawa kita pada perbedaan biaya pembangunan dan umur pakai green house. Semakin kuat dan awet material yang digunakan, akan semakin besar biayanya tetapi umur green house akan lebih lama. Untuk negara kita, green house yang biasa digunakan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu green house bambu, green house kayu dan green house besi. A. Green house bambu. Green house jenis ini umumnya dipakai sebagai green house produksi. Green house ini secara umum adalah jenis green house yang paling murah biaya pembuatannya dan banyak dipakai oleh kalangan petani kita sebagai sarana produksi. Namun kelemahan dari green house ini adalah umurnya yang relatif pendek dan bahan materialnya dapat menjadi media timbulnya hama. Karena kekuatan struktur dan juga masalah biaya, maka green house bambu atapnya terbatas menggunakan plastik UV. B. Green house kayu Lebih baik dari green house bambu adalah gren house dengan material kayu, terutama jenis kayu yang tahan air, seperti ulin dan bengkirai. Dibanding green house bambu umur pakai green house kayu biasanya lebih panjang dan kondisi sanitasi lingkungan lebih baik. Beberapa jenis green house kayu, bagian dinding bawah dibuat dari pasangan bata yang diplester. Jenis green house ini bahan atapnya sudah lebih bervariasi bisa plastik, polykarbonat, PVC ataupun kaca. C. Green house besi. Dari segi umur pakai dan kwalitas, maka yang terbaik adalah green house yang menggunakan struktur besi, terlebih besi yang telah di treatment “hot dipped galvanis”. Struktur yang baik akan mengurangi frekuensi perawatan; sehingga tidak terjadi stagnan kegiatan., walaupun pada keadaan tertentu perlu dilakukan sanitasi, tetapi sanitasi yang terjadwal. Dengan struktur yang kuat, maka berbagai jenis tambahan peralatan / optional dapat dipasangkan pada jenis green house besi, sehingga penggunaan green house dapat dilakukan secara optimal. TIPE GREEN HOUSE Type green house dibedakan berdasarkan bentuk bangunan atau desainnya. Bentuk atau desain ini selain berpengaruh pada kekuatan struktur juga sangat berpengaruh pada kondisi mikroklimat di dalam green house. Secara umum desain green house uintuk daerah tropis berbeda dengan desain di daerah empat musim maupun sub tropis. Kecuali desain green house yang memang dibuat khusus seperti untuk penanaman planlet, induksi akar atau pembuatan stek. Desain green house daerah tropis ditandai dengan banyaknya bukaan ventilasi. Karena problem utama dari green house di wilayah tropis adalah suhu udara yang terlalu tinggi akibat radiasi sinar infra merah. Sebaliknya pada daerah sub tropis maupun daerah empat musim desain green house lebih tertutup. Bukaan yang minimal ini dibuituhkan karena pada saat musim dingin udara hangat akibar radiasi infra merah dipertahankan tidak keluar. Jadi desain sebuah green house sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Bagaimana sebuah green house dapat memberikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman terletak pada desainnya. Pada dasarnya green house dapat dibagi ke dalam 3 type, yaitu : 1. tipe tunnel 2. tipe piggy back 3. tipe multispan Masing – masing type dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Type Tunnel Tipe ini dari depan tampak seperti lorong setengah lingkaran. Kelebihannya adalah memiliki struktur sangat kuat. Atapnya yang berbentuk melengkung kebawah merupakan bentuk yang sangat ideal dalam menghadapi terpaan angin. Sementara struktur busur dengan kedua kaki terpendam ketanah memegang bangunan lebih kuat. Kelemahan dari tipe ini adalah minimnya system ventilasi. Jika digunakan pada daerah tropis dibutuhkan alat tambahan berupa exhaust fan atau cooling system untuk mengalirkan dan menurunkan suhu udara di dalam green house. 2. Tipe Piggy back Green house tipe ini banyak digunakan di daerah tropis, dapat dikatakan tipe ini adalah tropical green house. Keunggulan tipe ini pada ventilasi udara yang sangat baik. Banyak memiliki struktur bukaan, sehingga memberikan lingkungan mikroklimat yang kondusif bagi pertrumbuhan tanaman. Selain memiliki keunggulan, banyaknya struktur bukaan juga merupakan kelemahan dari tipe ini. Pada daerah dengan tiupan angin yang kuat green house tipe piggy back kurang disarankan. Karena dengan banyaknya struktur terbuka menyebabkan struktur rentan terhadap terpaan angin. Selain itu dari segi biaya dengan penggunaan material atap sama, greeen house type ini relatif lebih mahal dibanding type lain karena penggunaan material struktur lebih banyak 3. Tipe Campuran ( Single span dan Multispan ) Desain tipe ini boleh dikatakan adalah campuran antara tipe tunnel dengan tipe piggy back. Dari desainnya terlihat tampak, bahwa tipe ini seakan – akan paduan (hybrid) antara tipe tunnel dengan tipe piggy back. Karena itu, maka tipe green house ini memeliki kelebihan dari tipe tunnel dan tipe piggy back, yaitu strukturnya kuat tetapi tetap memiliki ventilasi yang maksimal. Kelebihan lain dari tipe ini adalah beberapa unit green house (Single Span) dapat disatukan menjadi satu blok green house besar (Multispan) dimana hal ini sulit dilakukan pada green house tipe tunnel. Dibandingkan tipe piggy back, selain struktur lebih kuat biaya pembuatan tipe campuran ini lebih hemat. Sehingga pada bidang kegiatan yang membutuhkan green house luas, maka type multispan adalah type yang paling sesuai. BAHAN PENUTUP GREEN HOUSE Perlu diketahui pula bahwa sebagian besar tanaman yang dibudidayakan pada green house membutuhkan cahaya dengan panjang gelombang sekitar 400 – 700 nanometer (Photosynthetically Active Radiation). Hampir semua bahan penutup green house mampu menampung cahaya tersebut sesuai dengan panjang gelombang yang diinginkan tanaman. Bahan yang terbuat dari Polyethylene dan fiberglass cenderung membuat cahaya menjadi tersebar, sementara bahan yang terbuat dari acrylic dan polycarbonate lebih cenderung meneruskan cahaya yang masuk secara langsung. Cahaya yang sifatnya menyebar tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi tanaman, dimana dia bisa mengurangi kelebihan cahaya pada daun-daun tanaman bagian atas dan memantulkannya pada daun-daun yang ada di bagian bawah sehingga penyebaran cahaya menjadi lebih merata. Sebenarnya bentuk-bentuk green house tersebut bermacam-macam mulai dari bentuk sederhana dengan bahan yang paling murah sampai bentuk komplek yang dibentuk dari bahan penutup yang mahal. Adapun bahan penutup atap dapat menggunakan kaca maupun plastik. Bahan yang terbuat dari plastik juga tidak kalah dengan kaca dimana mempunyai kelebihan antara lain : tahan pecah, bentuknya bisa disesuaikan dengan bermacam design, dan sangat mudah digunakan. Beberapa tipe plastik yang biasa digunakan sebagai penutup green house antara lain : 1. Acrylic Acrylic sangat tahan terhadap perubahan cuaca , tahan pecah serta sangat transparan. Penyerapan sinar ultra violet yang berasal dari matahari lebih tinggi dibandingkan dengan bahan yang terbuat dari kaca. Penggunaan acrylic sebanyak dua lapis mampu menghantarkan sekitar 83 % cahaya dan mengurangi kehilangan panas sekitar 20-40% dibandingkan penggunaan 1 lapis. Bahan ini tidak akan menguning walaupun digunakan dalam waktu yang lama. Namun kekurangan dari bahan acrylic adalah : mudah terbakar,sangat mahal, dan sangat mudah tergores/tidak tahan gores. 2. Polycarbonate Polycarbonate memiliki ciri-ciri : lebih tahan, lebih fleksibel, lebih tipis, serta lebih murah dibandingkan acrylic. Penggunaan dua lapis polycarbonate mampu menghantarkan cahaya sekitar 75-80 % dan mengurangi kehilangan panas sekitar 40% dibandingkan satu lapis. Namun bahan ini sangat mudah tergores, mudah memuai, gampang menguning, dan akan membuat lapisan kurang transparan dalam waktu satu tahun (meskipun kini hadir jenis baru yang tidak cepat menguning). 3. Fiberglass Reinforced Polyester Bahan ini memiliki sifat-sifat : lebih tahan lama, penampilannya menarik, harganya terjangkau dibandingkan kaca, serta FRP ini lebih tahan pengaruh perubahan cuaca. Bahan plastik ini mudah sekali dibentuk menjadi bentuk bergelombang maupun berupa lempengan. Meskipun demikian kekurangannya adalah bahan ini mudah memuai. 4. Polyethylene film Bahan ini sangat murah dibandingkan dengan bahan lainnya namun sifatnya hanya sementara (kurang tahan lama), bentuknya kurang menarik, serta membutuhkan penanganan maupun perawatan yang lebih intensif . Selain itu, bahan ini juga mudah sekali rusak oleh sengatan cahaya matahari, walaupun mampu bertahan minimal 1 – 2 tahun dengan perawatan lebih intensif. Dikarenakan bahan ini berupa lembaran lebar sehingga tidak membutuhkan kerangka yang lebih banyak dan bisa menghantarkan cahaya paling besar. 5. Polyvinyl cholride film Bahan ini mempunyai sifat penghantar emisi yang sangat besar untuk cahaya dengan panjang gelombang yang besar, dimana bahan ini mampu menciptakan temperatur udara yang cukup tinggi pada malam hari dan bisa berfungsi sebagai penghalang sinar ultra violet. Bahan ini lebih mahal dibandingkan polyethylene film dan cenderung mudah kotor, yang mana harus terus dilakukan pembersihan agar didapatkan penghantaran cahaya yang lebih baik. Untuk model atap ada yang berbentuk melengkung dan ada yang berbentuk lancip. Tinggi dinding yang baik mencapai 6 sampai 9 meter, tergantung crop yang akan diproduksi atau tergantung pada tujuannya. Bahan dinding beserta atapnya dapat dari kaca maupun plastik yang tebal yang tidak mudah sobek dan cara pemasanganya dimulai dari atapnya dulu, kalau sudah selesai baru dinding. Pintu dari green house harus dibuat serapat mungkin sehingga tidak memberikan kesempatan bagi udara luar untuk masuk kedalam green house. Setelah dinding dan atap terpasang kaca atau plastik, kita dapat memasang sistem irigasi dengan menggunakan pipa secara sistematis yang dapat kita kendalikan, serta diberi bak pengontrol untuk mengontrol masuk dan keluarnya air dari dalam dan keluar dari green house. Untuk bagian dalam green house ada 2 jenis, yaitu diplester dengan semen, ini hanya untuk green house yang penanamannya menggunakan media pot atau plastik polybag atau percobaan hydroponik tetapi ada juga yang dalamnya berupa tanah seperti yang ada dilahan persawahan, hal ini bertujuan untuk budidaya sayuran, buah-buahan dan bunga yang akan dibuat petakan atau bedengan. Bahkan bedengan ini ada juga yang diberi mulsa sama seperti tehnik budidaya tanaman pada umumnya. Tetapi dengan green house pengawasan terhadap tanaman baik temperature, kelembaban, kebutuhan air, kebutuhan hara bahkan pengendalian hama dan penyakitnya dapat dikontrol dengan sebaik-baiknya. Untuk jangka panjang pembudidayaan tanaman dengan green house sangat menguntungkan khususnya untuk bisnis fresh market hortikultura karena kita mampu berproduksi sepanjang masa tidak tergantung pada cuaca atau musim bahkan kualitas produk yang dihasilkan dapat terjamin atau lebih baik dari tehnik budidaya dialam bebas. Beberapa unsur lokasi yang perlu diperhatikan dalam pembangunan rumah plastik adalah 1.Luas Areal Luas lahan hendaknya cukup besar untuk mengantisipasi perkembangan usaha dimasa yang akan datang. Untuk usaha komersial faktor ini sangat penting. Disamping itu perlu diperhitungkan juga lahan untuk bangunan penunjang usaha seperti jalan, gudang dan lain-lain. 2.Topografi Lokasi pembangun rumah plastik harus sedatar mungkin untuk menekan biaya, karena jika dibangun pada lokasi yang miring maka diperlukan biaya tambahan untuk pembuatan rumah plastik bertingkat. Lokasi yang datar juga memudahkan dalam otomasisasi pada rangkai rumah plastik yang besar sekalipun. Lahan tersebut juga harus mempunyai sifat drainase yang baik. 3.Iklim Iklim lokasi yang dipilih diperhitungkan berdasarkan kebutuhan tanaman yang akan diusahakan. Area yang seringkali berkabut atau bercuaca buruk umumnya kurang baik bagi kebanyakann tanaman. Tanamam yang menyukai intensitas cahaya yang tinggi akan lebih baik diusahakan di lokasi yang ketinggiannya cukup tinggi dengan intensitas cahaya yang baik. Adanya bukit atau barisan pepohonan yang berlaku sebagai penghalang, penting untuk area-area yang anginnya cukup kencang. 3.Ketersediaan air Air adalah salah satu faktor utama yang sangat dibutuhkan tanamam. Karena itu dalam menentukan lokasi rumah plastik, ketersediaan air di lokasi yang dipilih baik kualitas maupun kuantitasnya harus cukup tersedia. Kontinuitas suplai air harus bisa mencukupi untuk jangka waktu yang panjang. Begitupun kualitas air yang tersedia harus diperiksa untuk menentukan kandungaan mineral dan mendekteksi unsur-unsur yang kurang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mengetahui kandungan mineral cukup penting terutama untuk daerah-daerah dekat pantai dan muara sungai, biasanya mengandung ion sodium dan klorida yang kurang baik bagi tanaman. 4.Arah/orientasi Arah/orientasi akan mempengaruhi penerimaan/transmisi cahaya. Transmisi cahaya dapat terhalangi oleh kerangka rumah plastik dan juga ditentukan oleh musim akibat perubahan sudut penyinaran matahari, terutama untuk daerah- daerah yang berada pada lintang tinggi. BAB III KESIMPULAN · Untuk membuat rumah kaca (greenhouse) harus di perhatikan unsur lokasi dimana akan di tempatkan rumah kaca tersebut · Sebenarnya bentuk-bentuk green house tersebut bermacam-macam mulai dari bentuk sederhana dengan bahan yang paling murah sampai bentuk komplek yang dibentuk dari bahan penutup yang mahal. · Bahan penutup atap dapat menggunakan kaca maupun plastik. Bahan yang terbuat dari plastik juga tidak kalah dengan kaca dimana mempunyai kelebihan antara lain : tahan pecah, bentuknya bisa disesuaikan dengan bermacam design, dan sangat mudah digunakan. · Kondisi areal yang beratap dan lebih tertata menyebabkan pengawasan dapat lebih intensif dilakukan. Bila terjadi gangguan terhadap tanaman baik karena hama, penyakit ataupun gangguan fisiologis, dapat dengan segera diketahui untuk diatasi.

Penting nya greenhouse

Pentingnya greenhouse di zaman sekarang Pengertian greenhouse merupakan sebuah bangunan yang berkerangka atau dibentuk menggelembung, diselubungi bahan bening atau tembus cahaya yang dapat meneruskan cahaya secara optimum untuk produksi dan melindungi tanaman dari kondisi iklim yang merugikan bagi pertumbuhan tanaman . Budidaya tanaman di dalam greenhouse memiliki keunggulan berupa lingkungan mikro yang lebih terkontrol dan keseragaman hasil produksi pada tiap tanaman. Berbeda dengan fungsi greenhouse di daerah iklim subtropis yang digunakan untuk mengendalikan lingkungan mikro, keberadaan greenhouse di daerah tropis lebih cenderung untuk perlindungan tanaman. Greenhouse di daerah tropis digunakan untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan menahan air hujan yang jatuh secara langsung ke tanaman sehingga dapat merusak tanaman. Oleh karena itu, rancangan greenhouse di daerah tropis lebih sederhana dibanding di daerah subtropis. Masalah yang sering dihadapi pada budidaya tanaman di daerah tropis adalah tingginya suhu udara di dalam greenhouse dibanding di luar greenhouse. Hal ini tidak terlepas dari suhu udara di daerah tropis yang cenderung panas dan berubah-ubah. Keadaan tersebut yang menyebabkan sulitnya mengendalikan keadaan suhu di dalamnya. Rancangan greenhouse juga sangat menentukan suhu udara di dalamnya. Pemilihan rancangan greenhouse perlu dilakukan secara tepat untuk mencegah keadaan yang merugikan bagi tanaman. Suhu di dalam greenhouse menjadi lebih tinggi dibanding dengan suhu di luar greenhouse disebabkan oleh perubahan radiasi surya yang masuk (bergelombang pendek) yang memanaskan permukaan dalam greenhouse dan selanjutnya permukaan dalam greenhouse memancarkan kembali dalam bentuk gelombang panjang. Oleh atap greenhouse gelombang panjang ini tidak diteruskan melainkan dipantulkan kembali ke dalam greenhouse. Dengan demikian, radiasi gelombang panjang ini makin lama semakin bertambah dan semakin meningkatkan energi dalam greenhouse yang diekspresikan dengan meningkatnya suhu dalam greenhouse. Rancangan greenhouse berpengaruh besar terhadap lingkungan mikro di dalamnya. Salah satu parameter lingkungan mikro tanaman adalah suhu. Suhu yang tinggi dapat mempercepat evapotranspirasi tanaman yang akan mempercepat kehilangan air dan energi. Salah satu cara untuk mengendalikan lingkungan mikro tanaman di dalam greenhouse khususnya suhu adalah dengan ventilasi alamiah. Keuntungan pemakaian ventilasi alamiah adalah biaya yang relatif murah dan tidak diperlukan perawatan. Kerugian yang perlu diperhatikan pada penggunaan cara ini adalah ketergantungan lingkungan mikro pada alam yang sulit dikendalikan. Penempatan dan luas bukaan ventilasi sangat menentukan pergerakan udara di dalam greenhouse yang akan membantu penurunan suhu. Letak ventilasi dan bentuk greenhouse akan mempengaruhi pergerakan udara di dalamnya. Pergerakan udara tersebut dimanfaatkan untuk memindahkan udara panas dari dalam greenhouse. Semakin banyak udara panas yang dikeluarkan akan membantu menurunkan suhu udara. Greenhouse digunakan untuk melakukan penelitian mengenai tanamantanaman yang memerlukan perlakuan khusus untuk menjaga proses pertumbuhan. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman, salah satu faktor adalah kelembahan atau kadar air. Perubahan suhu di dalam greenhouse sangat mempengaruhi kelembaban, karena semakin meningkatnya suhu akan menyebabkan menguapnya kadar air di udara. Oleh karena itu untuk konsep yang cocok di dalam green house yang telah ada di sini yaitu dengan menambahkan suatu ventilasi udara supaya suhu pada green house bisa memenuhi syarat green house yang stsndart pada umumnya. Untuk tanaman, bagaimana jika di green house kita, di tanami dengan tanaman hidroponik, yang di maksud tanaman hidroponik yaitu Hidroponik berasal dari kata Yunani yaitu hydro yang berarti air dan ponos yang artinya daya. Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang mamanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilles. Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan untuk skala usaha komersial harus diperhatikan. Sebagai contoh jenis tanaman yang mempunyai nilai jual diatas rata-rata, yaitu: a. Paprika b.Tomat c. Timun Jepang d. Melon e. Terong Jepang f. Selada. Hidroponik ini mempunyai beberapa kelebihan berbanding dengan sistem penanaman biasa yang menggunakan tanah seperti berikut: Sistem ini boleh dipraktikkan pada kawasan yang tidak sesuai untuk penanaman secara biasa seperti tanah bertoksik, padang pasir dan lain-lain; Sayur-sayuran akan cepat tumbuh dan mengeluarkan hasil yang berkualiti tinggi; Bersih dan bebas daripada sebarang racun makhluk perosak; Tidak perlu merumpai, menyiram dan mencangkul; Penggunaan air dan baja yang terkawal dan efisien; Pulangan hasil seunit kawasan bagi seunit masa adalah tinggi.

Tentang Greenhouse

GREEN HOUSE EFFECT Dalam dunia Biologi dan pertanian dikenal istilah greenhouse (rumah hijau) yang berarti sebuah rumah yang dinding dan atapnya dibuat dari kaca atau plastik. Dari sinilah mucul istilah dalam bahasa Indonesia yaitu rumah kaca. Padahal greenhouse tidak harus dibuat dari kaca. Bahkan ada versi paling murah yang digunakan di sekolah-sekolah di Indonesia menggunakan rangka pipa aluminium, plastik untuk atapnya, dan kasa anti nyamuk untuk dindingnya. Greenhouse digunakan untuk pengembangbiakan tumbuhan baik untuk tujuan riset ataupun intensifikasi pertanian. Di negara-negara yang lahan pertaniannya terbatas, seperti Jepang, greenhouse ini benar-benar digunakan untuk menyuplai kebutuhan pangan di negara itu. Karena meski lahan sangat terbatas, secara kuantitas hasil panen greenhouse bisa melebih hasil panen kebun konvensional dengan luas lahan yang sama. Umumnya, budidaya tanaman di dalam greenhouse menggunakan metode hydroponics dan aeroponics, tidak lagi menggunakan media tanah untuk menanam. Sebuah greenhouse yang canggih memiliki fasilitas rekayasa cuaca. Di dalamnya, berbagai besaran-besaran fisis cuaca bisa diatur, di antaranya: suhu udara, kelembaban, intensitas cahaya matahari, durasi penyinaran, sirkulasi udara, kecepatan dan arah angin, dan sebagainya. Sehingga greenhouse tersebut tahan cuaca, artinya tidak bergantung pada cuaca lingkungannya. Bahkan sekarang ini ilmuwan sudah bisa “menghidupkan” serangga-serangga tertentu di dalam greenhouse. Terutama serangga yang berperan dalam reproduksi tumbuhan seperti: semut, lebah, dan kupu-kupu. 2. Greenhouse Effect Matahari meradiasikan cahaya dengan berbagai panjang gelombang, yang disebut sebagai spektrum matahari (solar spectrum), ke bumi, yaitu: cahaya tampak (Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U), cahaya infra merah, cahaya ultra violet, sinar X, dan sinar γ (gamma). Seperti kita ketahui, cahaya infra merah adalah perwujudan dari kalor (panas) yang dipindahkan secara radiasi. Ketika cahaya matahari mencapai atmosfer, sinar X dan sinar γ dipantulkan kembali ke angkasa oleh awan dan partikel atmosfer yang terluar. Selanjutnya lapisan ozone (ketinggian 19 – 48 km) menyerap sebagian besar cahaya ultra voilet. Hanya sedikit ultra violet yang lewat dan cukup untuk photosynthesis serta pembentukan vitamin D pada kulit manusia. Sebagian yang berupa cahaya tampak dan cahaya infra merah diserap oleh bumi dan segala makhluk di atasnya. Sedangkan sisa radiasi infra merah dipantulkan kembali ke atmosfer. Cahaya infra merah yang dipantulkan bumi ke atmosfer diserap oleh gas-gas rumah kaca yang secara alamiah sudah ada di sana, yaitu: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), dan uap air. Lapisan gas rumah kaca ini menciptakan kesetimbangan energi antara permukaan bumi, atmosfer, dan ruang angkasa. Kesetimbangan ini penting untuk mempertahankan kestabilan iklim bumi secara global. Sekarang, bayangkan kita berada di dalam sebuah rumah kaca yang tertutup rapat. Cahaya matahari yang menembus kaca kemudian terpisahkan menjadi beberapa panjang gelombang (dispersi), di antaranya infra merah. Cahaya-cahaya tadi kemudian berinteraksi dengan semua benda atau materi yang dilaluinya. Sebagian diserap sementara sebagian lainnya dipantulkan kembali ke dinding kaca. Sayangnya, cahaya infra merah yang masih tersisa ini tidak memiliki cukup energi (karena panjang gelombangnya besar, frekuensinya kecil) untuk menembus dinding kaca. Akibatnya, ia terperangkap di dalam rumah kaca tersebut dan mengakibatkan suhu di dalamnya meningkat. Greenhouse effect (efek rumah kaca, Indonesia) prinsipnya sama seperti uraian tadi. Hanya saja sekarang yang menjadi “kaca” adalah gas-gas yang dijuluki sebagai gas rumah kaca tadi. Gas-gas ini (yang secara alamiah sudah ada) semakin terakumulasi di atmosfer pada ketinggian lebih dari 100 km di atas bumi akibat produksi gas-gas rumah kaca yang berlebihan. Dampaknya, panas yang terperangkap ini menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai global warming (pemanasan global) yang bertanggung jawab atas: perubahan cuaca, mencairnya es dan glacier di kutub, naiknya permukaan air laut, gangguan siklus hewan dan tumbuhan, serta munculnya berbagai penyakit pada manusia. 3. Photosynthesis serta Hubungan Harmonis antara Tumbuhan, Manusia, dan Hewan Photosynthesis adalah proses yang dilakukan oleh tumbuhan hijau (dan organisme tertentu lainnya) untuk mengubah gas karbondioksida (CO2) dan air menjadi gula sederhana (glukosa, C6H12O6) dengan bantuan cahaya ultraviolet dari matahari. Gula itu menjadi zat (dan cadangan) makanan bagi tumbuhan. Subhanallah, sesungguhnya ALLAH telah menata segala sesuatunya dengan sangat sempurna sesuai kadarnya. Di siang hari, manusia dan hewan beraktivitas membutuhkan banyak suplai gas oksigen (O2) untuk mengubah zat makanan menjadi energi. Proses metabolisme manusia dan hewan itu menghasilkan produk sampingan berupa gas CO2. Sementara itu gas CO2 dibutuhkan oleh tumbuhan untuk photosynthesis. Sedangkan photosynthesis sendiri, selain menghasilkan glukosa juga melepaskan produk sampingan berupa gas O2. Indah sekali bukan? Jadi, gas CO2 dari manusia dan hewan dibutuhkan tumbuhan. Gas O2 dari tumbuhan dibutuhkan manusia dan hewan. ALLAH menutupi siang dengan malam agar manusia dan hewan beristirahat, sehingga tidak banyak membutuhkan gas O2. Karena pada malam hari tumbuhan tidak ber-photosynthesis. Sebaliknya pada malam hari tumbuhan melakukan respirasi yang juga menyerap gas O2. Jika hubungan harmonis ini dapat berjalan secara seimbang, maka bumi ini akan baik-baik saja. Seimbang dalam pengertian kuantitas artinya, jika jumlah manusia dan hewan semakin banyak, maka (logikanya) jumlah tumbuhannya juga harus semakin banyak agar tetap seimbang. 4. Ketidakseimbangan Alam dan Produksi Gas Rumah Kaca Na’udzubillah min dzalik… Pada kenyataannya, manusia sebagai makhluk yang diberi kepercayaan oleh ALLAH untuk merawat bumi ini tidak sanggup mempertahankan keseimbangan alam. Populasi manusia yang terus bertambah menyebabkan konsumsi pangan dan kebutuhan tempat tinggal meningkat. Hutan-hutan dibabat (deforestation) untuk dijadikan lahan-lahan pertanian dan perumahan, serta diambil kayunya untuk industri material dan kertas. Di sinilah mulai terjadi ketidakseimbangan. Jumlah manusia bertambah, sedangkan jumlah tumbuhan justru berkurang. Semakin banyak manusia berarti semakin banyak CO2 yang dilepaskan dan semakin banyak pula O2 yang dibutuhkan. Sementara itu di saat yang sama, populasi tumbuhan (hutan) malah berkurang. Akibatnya, penyerapan CO2 turut berkurang serta produksi O2 juga berkurang. Ketidakseimbangan populasi manusia, hewan, dan tumbuhan telah menyebabkan penumpukan CO2 dalam jumlah besar. Ternyata ini saja masih belum cukup. Dimulai sejak jaman revolusi industri, dimana tenaga manusia dan hewan digantikan oleh mesin-mesin yang awalnya digerakkan oleh uap yang diperoleh dari pembakaran batubara. Kemudian ditemukannya sumur-sumur minyak bumi baik di darat maupun di lautan. Dimulailah era bahan bakar fosil. Hingga saat ini, hampir seluruh kebutuhan energi manusia, mulai dari mesin-mesin industri, pembangkit energi listrik, dan transportasi, masih disuplai oleh bahan bakar fosil, yaitu: bensin, solar, avtur, minyak tanah, dan sebagainya. Masalahnya adalah, sisa-sisa dari pembakaran bahan bakar fosil tersebut menyumbang begitu banyak gas-gas pencemar yang di antaranya adalah gas-gas rumah kaca (CO2 dan NOx). Jadi, ketidakseimbangan populasi makhluk hidup seperti yang dipaparkan sebelumnya, semakin diperparah dengan tambahan gas-gas rumah kaca dari hasil pembakaran bahan bakar fosil. Bisa bayangkan berapa banyak pabrik, kendaraan, dan pembangkit energi listrik di seluruh dunia??? 5. The Ozone Layer Depletion Ozone, dalam bahasa Yunani ozein yang artinya membau, adalah gas yang sangat beracun dan berbahaya serta berbau menyengat. Ozone adalah molekul triatomik yang terdiri dari tiga buah atom oksigen (O3). Di permukaan bumi, ozone dianggap sebagai polutan. Selain beracun dan berbahaya, ozone juga berbahaya bagi kesehatan di antaranya memicu asma dan bronkhitis. Secara kimia ozone sangat reaktif dan bisa merusak bahan-bahan karet dan plastik. Ozone terbentuk dari oksigen diatomik biasa (O2) yang terekspos loncatan muatan listrik. Di alam, ozone terbentuk ketika terjadi petir. Jadi, bersyukurlah jika ada petir karena itu artinya ALLAH sedang memperbaiki lapisan ozone yang sudah kita rusak. Ozone juga berguna untuk memurnikan air, mensterilkan udara, dan memutihkan bahan-bahan makanan tertentu. Namun di atmosfer, lapisan ozone berperan vital sebagai penyaring (filter) cahaya ultra violet yang diradiasikan matahari. Sehingga hanya sedikit saja (namun cukup) ultra violet yang mencapai permukaan bumi. Kerusakan lapisan ozone menyebabkan kadar ultra violet yang lolos ke bumi berlebihan. Ultra violet yang berlebihan terbukti dapat memicu kanker kulit dan katarak serta dapat membunuh jenis-jenis tumbuhan dan plankton tertentu. Semakin banyak tumbuhan yang mati, ujung-ujungnya kembali ke global warming yang dijelaskan sebelumnya. Sedangkan punahnya plankton dapat merusak jejaring makanan di lautan, ketidakseimbangan alam. Para ilmuwan menemukan penyebab utama rusaknya lapisan ozone adalah kebocoran gas Chlorofluorocarbons (CFC) yang digunakan sebagai pendingin pada kulkas dan AC serta gas pendorong pada produk-produk semprot (aerosol) seperti parfum dan cat semprot. Diperkirakan, 1 unit molekul CFC dapat merusak 100.000 unit molekul ozone. Selain CFC, penggunaan pupuk kimia yang mengandung NOx secara berlebihan juga dapat memicu kerusakan ozone. Sebagai gantinya, sekarang sudah ada Hydrochlorofluorocarbons (HCFC) yang lebih ramah terhadap ozone. Jadi, jika kamu ingin berkontribusi dalam mencegah rusaknya ozone, pastikan kulkas dan AC yang dibeli ortumu bertuliskan: non CFC atau CFC free, atau sebaiknya tidak usah menggunakan AC sama sekali. Lagipula sekarang kan jamannya hemat energi. Selain itu, minimalkan penggunaan aerosol seperti parfum (dalam kemasan tabung), cat semprot, dan berbagai produk kecantikan yang disemprot lainnya. Jadi kesimpulannya: § Greenhouse effect disebabkan oleh terakumulasinya gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, dan NOx) di atmosfer bumi sehingga menghalangi cahaya infra merah (panas) untuk lepas ke ruang angkasa yang mengkibatkan peningkatan suhu bumi secara global (global warming). Akumulasi gas-gas rumah kaca bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil secara besar-besaran untuk keperluan industri, pembangkitan energi listrik, dan transportasi, serta diperparah oleh penggundulan hutan (deforestation) untuk pembukaan lahan pertanian dan perumahan, serta bahan baku industri material dan kertas. Greenhouse effect tidak disebabkan oleh gedung-gedung pencakar langit yang dindingnya menggunakan kaca. § Greenhouse adalah rumah yang dibangun dari kaca atau plastik untuk pengembangbiakan tumbuh-tumbuhan baik untuk keperluan riset maupun intensifikasi pertanian. § Perusakan lapisan ozone disebabkan oleh kebocoran gas CFC yang terdapat pada kulkas, AC, serta aerosol. Source: Microsoft Encarta Premium 2006 Greenhouse Effect and Ozone Layer Depletion oleh: Ust. Novrian, Guru Fisika Di suatu Minggu yang cerah, bermula dari tayangan dokumenter di MetroTV, saya dan seorang siswi berSMS-ria tentang efek rumah kaca dan lapisan ozon yang bolong. Rupanya sang siswi salah persepsi. Ia mengira gedung-gedung tinggi yang dindingnya terbuat kaca adalah tersangka utama rusaknya lapisan ozon di atmosfer bumi. 1. Greenhouse Dalam dunia Biologi dan pertanian dikenal istilah greenhouse (rumah hijau) yang berarti sebuah rumah yang dinding dan atapnya dibuat dari kaca atau plastik. Dari sinilah mucul istilah dalam bahasa Indonesia yaitu rumah kaca. Padahal greenhouse tidak harus dibuat dari kaca. Bahkan ada versi paling murah yang digunakan di sekolah-sekolah di Indonesia menggunakan rangka pipa aluminium, plastik untuk atapnya, dan kasa anti nyamuk untuk dindingnya. Greenhouse digunakan untuk pengembangbiakan tumbuhan baik untuk tujuan riset ataupun intensifikasi pertanian. Di negara-negara yang lahan pertaniannya terbatas, seperti Jepang, greenhouse ini benar-benar digunakan untuk menyuplai kebutuhan pangan di negara itu. Karena meski lahan sangat terbatas, secara kuantitas hasil panen greenhouse bisa melebih hasil panen kebun konvensional dengan luas lahan yang sama. Umumnya, budidaya tanaman di dalam greenhouse menggunakan metode hydroponics dan aeroponics, tidak lagi menggunakan media tanah untuk menanam. Sebuah greenhouse yang canggih memiliki fasilitas rekayasa cuaca. Di dalamnya, berbagai besaran-besaran fisis cuaca bisa diatur, di antaranya: suhu udara, kelembaban, intensitas cahaya matahari, durasi penyinaran, sirkulasi udara, kecepatan dan arah angin, dan sebagainya. Sehingga greenhouse tersebut tahan cuaca, artinya tidak bergantung pada cuaca lingkungannya. Bahkan sekarang ini ilmuwan sudah bisa “menghidupkan” serangga-serangga tertentu di dalam greenhouse. Terutama serangga yang berperan dalam reproduksi tumbuhan seperti: semut, lebah, dan kupu-kupu. 2. Greenhouse Effect Matahari meradiasikan cahaya dengan berbagai panjang gelombang, yang disebut sebagai spektrum matahari (solar spectrum), ke bumi, yaitu: cahaya tampak (Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U), cahaya infra merah, cahaya ultra violet, sinar X, dan sinar γ (gamma). Seperti kita ketahui, cahaya infra merah adalah perwujudan dari kalor (panas) yang dipindahkan secara radiasi. Ketika cahaya matahari mencapai atmosfer, sinar X dan sinar γ dipantulkan kembali ke angkasa oleh awan dan partikel atmosfer yang terluar. Selanjutnya lapisan ozone (ketinggian 19 – 48 km) menyerap sebagian besar cahaya ultra voilet. Hanya sedikit ultra violet yang lewat dan cukup untuk photosynthesis serta pembentukan vitamin D pada kulit manusia. Sebagian yang berupa cahaya tampak dan cahaya infra merah diserap oleh bumi dan segala makhluk di atasnya. Sedangkan sisa radiasi infra merah dipantulkan kembali ke atmosfer. Cahaya infra merah yang dipantulkan bumi ke atmosfer diserap oleh gas-gas rumah kaca yang secara alamiah sudah ada di sana, yaitu: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), dan uap air. Lapisan gas rumah kaca ini menciptakan kesetimbangan energi antara permukaan bumi, atmosfer, dan ruang angkasa. Kesetimbangan ini penting untuk mempertahankan kestabilan iklim bumi secara global. Sekarang, bayangkan kita berada di dalam sebuah rumah kaca yang tertutup rapat. Cahaya matahari yang menembus kaca kemudian terpisahkan menjadi beberapa panjang gelombang (dispersi), di antaranya infra merah. Cahaya-cahaya tadi kemudian berinteraksi dengan semua benda atau materi yang dilaluinya. Sebagian diserap sementara sebagian lainnya dipantulkan kembali ke dinding kaca. Sayangnya, cahaya infra merah yang masih tersisa ini tidak memiliki cukup energi (karena panjang gelombangnya besar, frekuensinya kecil) untuk menembus dinding kaca. Akibatnya, ia terperangkap di dalam rumah kaca tersebut dan mengakibatkan suhu di dalamnya meningkat. Greenhouse effect (efek rumah kaca, Indonesia) prinsipnya sama seperti uraian tadi. Hanya saja sekarang yang menjadi “kaca” adalah gas-gas yang dijuluki sebagai gas rumah kaca tadi. Gas-gas ini (yang secara alamiah sudah ada) semakin terakumulasi di atmosfer pada ketinggian lebih dari 100 km di atas bumi akibat produksi gas-gas rumah kaca yang berlebihan. Dampaknya, panas yang terperangkap ini menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai global warming (pemanasan global) yang bertanggung jawab atas: perubahan cuaca, mencairnya es dan glacier di kutub, naiknya permukaan air laut, gangguan siklus hewan dan tumbuhan, serta munculnya berbagai penyakit pada manusia. 3. Photosynthesis serta Hubungan Harmonis antara Tumbuhan, Manusia, dan Hewan Photosynthesis adalah proses yang dilakukan oleh tumbuhan hijau (dan organisme tertentu lainnya) untuk mengubah gas karbondioksida (CO2) dan air menjadi gula sederhana (glukosa, C6H12O6) dengan bantuan cahaya ultraviolet dari matahari. Gula itu menjadi zat (dan cadangan) makanan bagi tumbuhan. Subhanallah, sesungguhnya ALLAH telah menata segala sesuatunya dengan sangat sempurna sesuai kadarnya. Di siang hari, manusia dan hewan beraktivitas membutuhkan banyak suplai gas oksigen (O2) untuk mengubah zat makanan menjadi energi. Proses metabolisme manusia dan hewan itu menghasilkan produk sampingan berupa gas CO2. Sementara itu gas CO2 dibutuhkan oleh tumbuhan untuk photosynthesis. Sedangkan photosynthesis sendiri, selain menghasilkan glukosa juga melepaskan produk sampingan berupa gas O2. Indah sekali bukan? Jadi, gas CO2 dari manusia dan hewan dibutuhkan tumbuhan. Gas O2 dari tumbuhan dibutuhkan manusia dan hewan. ALLAH menutupi siang dengan malam agar manusia dan hewan beristirahat, sehingga tidak banyak membutuhkan gas O2. Karena pada malam hari tumbuhan tidak ber-photosynthesis. Sebaliknya pada malam hari tumbuhan melakukan respirasi yang juga menyerap gas O2. Jika hubungan harmonis ini dapat berjalan secara seimbang, maka bumi ini akan baik-baik saja. Seimbang dalam pengertian kuantitas artinya, jika jumlah manusia dan hewan semakin banyak, maka (logikanya) jumlah tumbuhannya juga harus semakin banyak agar tetap seimbang. 4. Ketidakseimbangan Alam dan Produksi Gas Rumah Kaca Na’udzubillah min dzalik… Pada kenyataannya, manusia sebagai makhluk yang diberi kepercayaan oleh ALLAH untuk merawat bumi ini tidak sanggup mempertahankan keseimbangan alam. Populasi manusia yang terus bertambah menyebabkan konsumsi pangan dan kebutuhan tempat tinggal meningkat. Hutan-hutan dibabat (deforestation) untuk dijadikan lahan-lahan pertanian dan perumahan, serta diambil kayunya untuk industri material dan kertas. Di sinilah mulai terjadi ketidakseimbangan. Jumlah manusia bertambah, sedangkan jumlah tumbuhan justru berkurang. Semakin banyak manusia berarti semakin banyak CO2 yang dilepaskan dan semakin banyak pula O2 yang dibutuhkan. Sementara itu di saat yang sama, populasi tumbuhan (hutan) malah berkurang. Akibatnya, penyerapan CO2 turut berkurang serta produksi O2 juga berkurang. Ketidakseimbangan populasi manusia, hewan, dan tumbuhan telah menyebabkan penumpukan CO2 dalam jumlah besar. Ternyata ini saja masih belum cukup. Dimulai sejak jaman revolusi industri, dimana tenaga manusia dan hewan digantikan oleh mesin-mesin yang awalnya digerakkan oleh uap yang diperoleh dari pembakaran batubara. Kemudian ditemukannya sumur-sumur minyak bumi baik di darat maupun di lautan. Dimulailah era bahan bakar fosil. Hingga saat ini, hampir seluruh kebutuhan energi manusia, mulai dari mesin-mesin industri, pembangkit energi listrik, dan transportasi, masih disuplai oleh bahan bakar fosil, yaitu: bensin, solar, avtur, minyak tanah, dan sebagainya. Masalahnya adalah, sisa-sisa dari pembakaran bahan bakar fosil tersebut menyumbang begitu banyak gas-gas pencemar yang di antaranya adalah gas-gas rumah kaca (CO2 dan NOx). Jadi, ketidakseimbangan populasi makhluk hidup seperti yang dipaparkan sebelumnya, semakin diperparah dengan tambahan gas-gas rumah kaca dari hasil pembakaran bahan bakar fosil. Bisa bayangkan berapa banyak pabrik, kendaraan, dan pembangkit energi listrik di seluruh dunia??? 5. The Ozone Layer Depletion Ozone, dalam bahasa Yunani ozein yang artinya membau, adalah gas yang sangat beracun dan berbahaya serta berbau menyengat. Ozone adalah molekul triatomik yang terdiri dari tiga buah atom oksigen (O3). Di permukaan bumi, ozone dianggap sebagai polutan. Selain beracun dan berbahaya, ozone juga berbahaya bagi kesehatan di antaranya memicu asma dan bronkhitis. Secara kimia ozone sangat reaktif dan bisa merusak bahan-bahan karet dan plastik. Ozone terbentuk dari oksigen diatomik biasa (O2) yang terekspos loncatan muatan listrik. Di alam, ozone terbentuk ketika terjadi petir. Jadi, bersyukurlah jika ada petir karena itu artinya ALLAH sedang memperbaiki lapisan ozone yang sudah kita rusak. Ozone juga berguna untuk memurnikan air, mensterilkan udara, dan memutihkan bahan-bahan makanan tertentu. Namun di atmosfer, lapisan ozone berperan vital sebagai penyaring (filter) cahaya ultra violet yang diradiasikan matahari. Sehingga hanya sedikit saja (namun cukup) ultra violet yang mencapai permukaan bumi. Kerusakan lapisan ozone menyebabkan kadar ultra violet yang lolos ke bumi berlebihan. Ultra violet yang berlebihan terbukti dapat memicu kanker kulit dan katarak serta dapat membunuh jenis-jenis tumbuhan dan plankton tertentu. Semakin banyak tumbuhan yang mati, ujung-ujungnya kembali ke global warming yang dijelaskan sebelumnya. Sedangkan punahnya plankton dapat merusak jejaring makanan di lautan, ketidakseimbangan alam. Para ilmuwan menemukan penyebab utama rusaknya lapisan ozone adalah kebocoran gas Chlorofluorocarbons (CFC) yang digunakan sebagai pendingin pada kulkas dan AC serta gas pendorong pada produk-produk semprot (aerosol) seperti parfum dan cat semprot. Diperkirakan, 1 unit molekul CFC dapat merusak 100.000 unit molekul ozone. Selain CFC, penggunaan pupuk kimia yang mengandung NOx secara berlebihan juga dapat memicu kerusakan ozone. Sebagai gantinya, sekarang sudah ada Hydrochlorofluorocarbons (HCFC) yang lebih ramah terhadap ozone. Jadi, jika kamu ingin berkontribusi dalam mencegah rusaknya ozone, pastikan kulkas dan AC yang dibeli ortumu bertuliskan: non CFC atau CFC free, atau sebaiknya tidak usah menggunakan AC sama sekali. Lagipula sekarang kan jamannya hemat energi. Selain itu, minimalkan penggunaan aerosol seperti parfum (dalam kemasan tabung), cat semprot, dan berbagai produk kecantikan yang disemprot lainnya. Jadi kesimpulannya: § Greenhouse effect disebabkan oleh terakumulasinya gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, dan NOx) di atmosfer bumi sehingga menghalangi cahaya infra merah (panas) untuk lepas ke ruang angkasa yang mengkibatkan peningkatan suhu bumi secara global (global warming). Akumulasi gas-gas rumah kaca bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil secara besar-besaran untuk keperluan industri, pembangkitan energi listrik, dan transportasi, serta diperparah oleh penggundulan hutan (deforestation) untuk pembukaan lahan pertanian dan perumahan, serta bahan baku industri material dan kertas. Greenhouse effect tidak disebabkan oleh gedung-gedung pencakar langit yang dindingnya menggunakan kaca. § Greenhouse adalah rumah yang dibangun dari kaca atau plastik untuk pengembangbiakan tumbuh-tumbuhan baik untuk keperluan riset maupun intensifikasi pertanian. § Perusakan lapisan ozone disebabkan oleh kebocoran gas CFC yang terdapat pada kulkas, AC, serta aerosol. Source: Microsoft Encarta Premium 2006 Greenhouse Effect and Ozone Layer Depletion oleh: Ust. Novrian, Guru Fisika Di suatu Minggu yang cerah, bermula dari tayangan dokumenter di MetroTV, saya dan seorang siswi berSMS-ria tentang efek rumah kaca dan lapisan ozon yang bolong. Rupanya sang siswi salah persepsi. Ia mengira gedung-gedung tinggi yang dindingnya terbuat kaca adalah tersangka utama rusaknya lapisan ozon di atmosfer bumi. 1. Greenhouse Dalam dunia Biologi dan pertanian dikenal istilah greenhouse (rumah hijau) yang berarti sebuah rumah yang dinding dan atapnya dibuat dari kaca atau plastik. Dari sinilah mucul istilah dalam bahasa Indonesia yaitu rumah kaca. Padahal greenhouse tidak harus dibuat dari kaca. Bahkan ada versi paling murah yang digunakan di sekolah-sekolah di Indonesia menggunakan rangka pipa aluminium, plastik untuk atapnya, dan kasa anti nyamuk untuk dindingnya. Greenhouse digunakan untuk pengembangbiakan tumbuhan baik untuk tujuan riset ataupun intensifikasi pertanian. Di negara-negara yang lahan pertaniannya terbatas, seperti Jepang, greenhouse ini benar-benar digunakan untuk menyuplai kebutuhan pangan di negara itu. Karena meski lahan sangat terbatas, secara kuantitas hasil panen greenhouse bisa melebih hasil panen kebun konvensional dengan luas lahan yang sama. Umumnya, budidaya tanaman di dalam greenhouse menggunakan metode hydroponics dan aeroponics, tidak lagi menggunakan media tanah untuk menanam. Sebuah greenhouse yang canggih memiliki fasilitas rekayasa cuaca. Di dalamnya, berbagai besaran-besaran fisis cuaca bisa diatur, di antaranya: suhu udara, kelembaban, intensitas cahaya matahari, durasi penyinaran, sirkulasi udara, kecepatan dan arah angin, dan sebagainya. Sehingga greenhouse tersebut tahan cuaca, artinya tidak bergantung pada cuaca lingkungannya. Bahkan sekarang ini ilmuwan sudah bisa “menghidupkan” serangga-serangga tertentu di dalam greenhouse. Terutama serangga yang berperan dalam reproduksi tumbuhan seperti: semut, lebah, dan kupu-kupu. 2. Greenhouse Effect Matahari meradiasikan cahaya dengan berbagai panjang gelombang, yang disebut sebagai spektrum matahari (solar spectrum), ke bumi, yaitu: cahaya tampak (Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-U), cahaya infra merah, cahaya ultra violet, sinar X, dan sinar γ (gamma). Seperti kita ketahui, cahaya infra merah adalah perwujudan dari kalor (panas) yang dipindahkan secara radiasi. Ketika cahaya matahari mencapai atmosfer, sinar X dan sinar γ dipantulkan kembali ke angkasa oleh awan dan partikel atmosfer yang terluar. Selanjutnya lapisan ozone (ketinggian 19 – 48 km) menyerap sebagian besar cahaya ultra voilet. Hanya sedikit ultra violet yang lewat dan cukup untuk photosynthesis serta pembentukan vitamin D pada kulit manusia. Sebagian yang berupa cahaya tampak dan cahaya infra merah diserap oleh bumi dan segala makhluk di atasnya. Sedangkan sisa radiasi infra merah dipantulkan kembali ke atmosfer. Cahaya infra merah yang dipantulkan bumi ke atmosfer diserap oleh gas-gas rumah kaca yang secara alamiah sudah ada di sana, yaitu: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (NOx), dan uap air. Lapisan gas rumah kaca ini menciptakan kesetimbangan energi antara permukaan bumi, atmosfer, dan ruang angkasa. Kesetimbangan ini penting untuk mempertahankan kestabilan iklim bumi secara global. Sekarang, bayangkan kita berada di dalam sebuah rumah kaca yang tertutup rapat. Cahaya matahari yang menembus kaca kemudian terpisahkan menjadi beberapa panjang gelombang (dispersi), di antaranya infra merah. Cahaya-cahaya tadi kemudian berinteraksi dengan semua benda atau materi yang dilaluinya. Sebagian diserap sementara sebagian lainnya dipantulkan kembali ke dinding kaca. Sayangnya, cahaya infra merah yang masih tersisa ini tidak memiliki cukup energi (karena panjang gelombangnya besar, frekuensinya kecil) untuk menembus dinding kaca. Akibatnya, ia terperangkap di dalam rumah kaca tersebut dan mengakibatkan suhu di dalamnya meningkat. Greenhouse effect (efek rumah kaca, Indonesia) prinsipnya sama seperti uraian tadi. Hanya saja sekarang yang menjadi “kaca” adalah gas-gas yang dijuluki sebagai gas rumah kaca tadi. Gas-gas ini (yang secara alamiah sudah ada) semakin terakumulasi di atmosfer pada ketinggian lebih dari 100 km di atas bumi akibat produksi gas-gas rumah kaca yang berlebihan. Dampaknya, panas yang terperangkap ini menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat. Fenomena ini dikenal sebagai global warming (pemanasan global) yang bertanggung jawab atas: perubahan cuaca, mencairnya es dan glacier di kutub, naiknya permukaan air laut, gangguan siklus hewan dan tumbuhan, serta munculnya berbagai penyakit pada manusia. 3. Photosynthesis serta Hubungan Harmonis antara Tumbuhan, Manusia, dan Hewan Photosynthesis adalah proses yang dilakukan oleh tumbuhan hijau (dan organisme tertentu lainnya) untuk mengubah gas karbondioksida (CO2) dan air menjadi gula sederhana (glukosa, C6H12O6) dengan bantuan cahaya ultraviolet dari matahari. Gula itu menjadi zat (dan cadangan) makanan bagi tumbuhan. Subhanallah, sesungguhnya ALLAH telah menata segala sesuatunya dengan sangat sempurna sesuai kadarnya. Di siang hari, manusia dan hewan beraktivitas membutuhkan banyak suplai gas oksigen (O2) untuk mengubah zat makanan menjadi energi. Proses metabolisme manusia dan hewan itu menghasilkan produk sampingan berupa gas CO2. Sementara itu gas CO2 dibutuhkan oleh tumbuhan untuk photosynthesis. Sedangkan photosynthesis sendiri, selain menghasilkan glukosa juga melepaskan produk sampingan berupa gas O2. Indah sekali bukan? Jadi, gas CO2 dari manusia dan hewan dibutuhkan tumbuhan. Gas O2 dari tumbuhan dibutuhkan manusia dan hewan. ALLAH menutupi siang dengan malam agar manusia dan hewan beristirahat, sehingga tidak banyak membutuhkan gas O2. Karena pada malam hari tumbuhan tidak ber-photosynthesis. Sebaliknya pada malam hari tumbuhan melakukan respirasi yang juga menyerap gas O2. Jika hubungan harmonis ini dapat berjalan secara seimbang, maka bumi ini akan baik-baik saja. Seimbang dalam pengertian kuantitas artinya, jika jumlah manusia dan hewan semakin banyak, maka (logikanya) jumlah tumbuhannya juga harus semakin banyak agar tetap seimbang. 4. Ketidakseimbangan Alam dan Produksi Gas Rumah Kaca Na’udzubillah min dzalik… Pada kenyataannya, manusia sebagai makhluk yang diberi kepercayaan oleh ALLAH untuk merawat bumi ini tidak sanggup mempertahankan keseimbangan alam. Populasi manusia yang terus bertambah menyebabkan konsumsi pangan dan kebutuhan tempat tinggal meningkat. Hutan-hutan dibabat (deforestation) untuk dijadikan lahan-lahan pertanian dan perumahan, serta diambil kayunya untuk industri material dan kertas. Di sinilah mulai terjadi ketidakseimbangan. Jumlah manusia bertambah, sedangkan jumlah tumbuhan justru berkurang. Semakin banyak manusia berarti semakin banyak CO2 yang dilepaskan dan semakin banyak pula O2 yang dibutuhkan. Sementara itu di saat yang sama, populasi tumbuhan (hutan) malah berkurang. Akibatnya, penyerapan CO2 turut berkurang serta produksi O2 juga berkurang. Ketidakseimbangan populasi manusia, hewan, dan tumbuhan telah menyebabkan penumpukan CO2 dalam jumlah besar. Ternyata ini saja masih belum cukup. Dimulai sejak jaman revolusi industri, dimana tenaga manusia dan hewan digantikan oleh mesin-mesin yang awalnya digerakkan oleh uap yang diperoleh dari pembakaran batubara. Kemudian ditemukannya sumur-sumur minyak bumi baik di darat maupun di lautan. Dimulailah era bahan bakar fosil. Hingga saat ini, hampir seluruh kebutuhan energi manusia, mulai dari mesin-mesin industri, pembangkit energi listrik, dan transportasi, masih disuplai oleh bahan bakar fosil, yaitu: bensin, solar, avtur, minyak tanah, dan sebagainya. Masalahnya adalah, sisa-sisa dari pembakaran bahan bakar fosil tersebut menyumbang begitu banyak gas-gas pencemar yang di antaranya adalah gas-gas rumah kaca (CO2 dan NOx). Jadi, ketidakseimbangan populasi makhluk hidup seperti yang dipaparkan sebelumnya, semakin diperparah dengan tambahan gas-gas rumah kaca dari hasil pembakaran bahan bakar fosil. Bisa bayangkan berapa banyak pabrik, kendaraan, dan pembangkit energi listrik di seluruh dunia??? 5. The Ozone Layer Depletion Ozone, dalam bahasa Yunani ozein yang artinya membau, adalah gas yang sangat beracun dan berbahaya serta berbau menyengat. Ozone adalah molekul triatomik yang terdiri dari tiga buah atom oksigen (O3). Di permukaan bumi, ozone dianggap sebagai polutan. Selain beracun dan berbahaya, ozone juga berbahaya bagi kesehatan di antaranya memicu asma dan bronkhitis. Secara kimia ozone sangat reaktif dan bisa merusak bahan-bahan karet dan plastik. Ozone terbentuk dari oksigen diatomik biasa (O2) yang terekspos loncatan muatan listrik. Di alam, ozone terbentuk ketika terjadi petir. Jadi, bersyukurlah jika ada petir karena itu artinya ALLAH sedang memperbaiki lapisan ozone yang sudah kita rusak. Ozone juga berguna untuk memurnikan air, mensterilkan udara, dan memutihkan bahan-bahan makanan tertentu. Namun di atmosfer, lapisan ozone berperan vital sebagai penyaring (filter) cahaya ultra violet yang diradiasikan matahari. Sehingga hanya sedikit saja (namun cukup) ultra violet yang mencapai permukaan bumi. Kerusakan lapisan ozone menyebabkan kadar ultra violet yang lolos ke bumi berlebihan. Ultra violet yang berlebihan terbukti dapat memicu kanker kulit dan katarak serta dapat membunuh jenis-jenis tumbuhan dan plankton tertentu. Semakin banyak tumbuhan yang mati, ujung-ujungnya kembali ke global warming yang dijelaskan sebelumnya. Sedangkan punahnya plankton dapat merusak jejaring makanan di lautan, ketidakseimbangan alam. Para ilmuwan menemukan penyebab utama rusaknya lapisan ozone adalah kebocoran gas Chlorofluorocarbons (CFC) yang digunakan sebagai pendingin pada kulkas dan AC serta gas pendorong pada produk-produk semprot (aerosol) seperti parfum dan cat semprot. Diperkirakan, 1 unit molekul CFC dapat merusak 100.000 unit molekul ozone. Selain CFC, penggunaan pupuk kimia yang mengandung NOx secara berlebihan juga dapat memicu kerusakan ozone. Sebagai gantinya, sekarang sudah ada Hydrochlorofluorocarbons (HCFC) yang lebih ramah terhadap ozone. Jadi, jika kamu ingin berkontribusi dalam mencegah rusaknya ozone, pastikan kulkas dan AC yang dibeli ortumu bertuliskan: non CFC atau CFC free, atau sebaiknya tidak usah menggunakan AC sama sekali. Lagipula sekarang kan jamannya hemat energi. Selain itu, minimalkan penggunaan aerosol seperti parfum (dalam kemasan tabung), cat semprot, dan berbagai produk kecantikan yang disemprot lainnya. Jadi kesimpulannya: § Greenhouse effect disebabkan oleh terakumulasinya gas-gas rumah kaca (CO2, CH4, dan NOx) di atmosfer bumi sehingga menghalangi cahaya infra merah (panas) untuk lepas ke ruang angkasa yang mengkibatkan peningkatan suhu bumi secara global (global warming). Akumulasi gas-gas rumah kaca bersumber dari pembakaran bahan bakar fosil secara besar-besaran untuk keperluan industri, pembangkitan energi listrik, dan transportasi, serta diperparah oleh penggundulan hutan (deforestation) untuk pembukaan lahan pertanian dan perumahan, serta bahan baku industri material dan kertas. Greenhouse effect tidak disebabkan oleh gedung-gedung pencakar langit yang dindingnya menggunakan kaca. § Greenhouse adalah rumah yang dibangun dari kaca atau plastik untuk pengembangbiakan tumbuh-tumbuhan baik untuk keperluan riset maupun intensifikasi pertanian. § Perusakan lapisan ozone disebabkan oleh kebocoran gas CFC yang terdapat pada kulkas, AC, serta aerosol.

Fungsi, Manfaat & Kegunaan Greenhouse

Fungsi, Manfaat & Kegunaan Greenhouse Dengan berkembangnya agribisnis & pendukung bidang pertanian lainnya peranan green house sangat di butuhkan. Hali ini dilakukan dalam rangka peningkatan produksi pertanian dan meningkatkan kualitas hasil panen. Saat ini banyak perusahaan kontruksi jasa pembuatan green house bermunculan yang menawarkan berbagai type dan keunggulanya. Apa Itu Greenhouse? Green house adalah sebuah bangunan kontruksi yang berfungsi untuk menghindari dan memanipulasi kondisi lingkungan agar tercipta kondisi lingkungan yang dikehendaki dalam pemeliharaan tanaman. Green House disebut juga "Rumah Kaca", karena kebanyakan green house di buat dari bahan yang tembus cahaya seperti kaca, achrilic, plastik dan sejenisnya. Dengan greenhouse beberapa kondisi lingkungan berikut dapat dihindari, antara lain: 1. Perubahan suhu dan kelembaban yang fluktuatif 2. Akibat buruk yang di timbulkkan dari radiasi sinar matahari jenis sinar ultra violet dan sinar infra red 3. Kekurangan air pada musim kemarau dan kelebihan air pada musim penghujan. 4. Hama dan binatang pengganggu serta penyakit tanaman seperti jamur dan bakteri. 5. Tiupan angin kencang yang dapat merobohkan tanaman dan merusak daun 6. Tiupan angin dan serangga yang dapat menggagalkan proses penyerbukan bunga 7. Akibat buruk dari polusi udara Kondisi lingkungan yang dapat di ciptakan dengan adanya greenhouse, antara lain: 1. Kondisi cuaca yang mendukung pertumbuhan tanaman 2. Suhu , kelembaban dan intensitas cahaya matahari dapat di atur sesuai kebutuhan 3. Penyiraman tanaman dapat diatur berkala 4. Kebersihan lingkungan dapat dijaga dengan baik sehingga terhindar dari penyakit tanaman. 5. Kenyamanan terhadapa aktivias produksi dan pengendalian mutu. 6. Udara yang bersih dari polutan 7. Insklusi (terlindung) terhadap gangguan binatang/hama dan serangga penggangu. Manfaat dan Fungsi Greenhouse Banyak manfaat & kegunaan dari greenhouse, antara lain: 1. Sebagai sarana pembibitan tanaman 2. Tempat karantina tanaman Tanaman yang sedang sakit, terkena hama atau ketika dalam proses tranplantasi (pemindahan tanaman) perlu dirawat dan dipelihara secara intensif atau di karantina. Hal ini dapat dilakukan di dalam green house untuk mendapatkan perawatan khusus dan mengindari kontaminasi terhadap tanaman lain. 3. Sebagai wahana budidaya tanaman tertentu Jenis tanaman tertentu menghendaki pemeliharaan khusus karena tanaman tersebut hanya dapat hidup dan berproduksi pada kondisi khusus. Misalnya beberapa jenis holtikultura (buah, sayur dan bunga), tanaman herbal dan tanaman hias. Dengan adanya green house kondisi lingkungan dapat di manipulasi sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut sehingga produksi dapat berjalan dengan baik, meminimalisir kegagalan produksi dan meningkatkan produktifitas. 4. Sebagai sarana Agro Wisata Green house banyak di jadikan sebagai sarana agro wisata di perkotaan yang memadukan keindahan taman dan fauna seperti angsa, burung dan lainya. Kenyamanan pengunjung dapat di ciptakan dan binatang dapat terjaga dengan baik. 5. Sebagai Agromart/Agroshop Penjualan tanaman seperti tanaman hias tidak mungkin dilakukan didalam gedung yang tertutup yang tidak ada cahaya matahari. Dengan adanya green house dapat diciptakan kondisi yang nyaman bagi para pengunjung dan pemeliharaan tanamanpun lebih mudah dilakukan. *** Sumber: http://www.gemaperta.com